Postingan

Nanar

1. Malam ini tak dapat pejamkan mata. Kepalaku serasa dihujani beribu kata-kata yang memahat prasasti tentangmu. Otakku mememorisasikan siluet indah di bibirmu tadi, bukan tertawa, bukan pula tersenyum. Namun begitu indah bagiku. Malam ini sungguh tak dapat pejamkan mataku karena kamu. Kamu yang berkaos putih bergerak membentuk bayangan imaji. Berpendar-pendar dalam gelapnya kamar tidurku. Mengapa terus pikirnya? “Dia jarang tersenyum. Itu keren buatku,” karena aku suka dia tanpa senyumnya itu. Malam ini aku kembali tak pejamkan mataku walau berton-ton kantuk tengah menggelayuti kedua kelopaknya. Masih karena kamu yang bermain futsal di bawah sana. “Lucunya! kaos putih dan celana pendek itu melekat pas di tubuhmu,” tak henti bola mata ini bergerak mengikuti perpindahan vektor kakimu yang lincah menggiring bola. Sementara aku menggila karenamu, Ishtar di atas sana sedang memandang dan tersenyum padaku. Lalu tangannya yang tak kasat mata membelai lembut sebagai angin ...

Sahur

*Makan sahur di puasa tahun kesekian “Dimakan sampai habis le. Ndak boleh pakai ngeluh, Gusti Allah masih sayang sama kita. Makanya walaupun cuma nasi aking tapi kita masih dikasih makan sahur tho?” “Tapi nasinya ndak enak mbok, keras!’ dengusku sambil terus mengunyah butiran-butiran nasi kering itu. Si mbok hanya tersenyum dan melanjutkan petuahnya,  “ Yo sing sabar le. Habis ini jangan tidur, shalat Subuh dulu. Minta sama Gusti Allah makanan yang enak untuk sahur besok. Simbok nanti langsung ke pasar.” Setiap hari aku selalu dipesani simbok untuk berdoa kepada Gusti Allah. Minta diparingi makanan untuk sahur kami esok hari. Setiap hari pula simbok berangkat ke pasar jam 4 petang. Berjualan sirih supaya dapat makan buat sahur kami esok. Hari ini aku bertanya pada diriku sendiri, “Lalu untuk apa berdoa? simbok tetap berjualan di pasar dan terus tidak mendapat makanan yang enak-enak itu.” +++ “Le, simbok perhatikan kamu sekarang jarang di rumah. Kema...

Pemuja Rahasia

Seperti Jakarta, betapapun menjenuhkan aku tak bisa berpaling darinya. Sakit namun menggila karenanya. Entah sudah berapa ratus ribu detik yang kubuang untuk hanya melonggok parasmu dari balik jendela bilikku.  Kau selalu mempesona seperti Jakarta. Entah juga sudah berapa mili eritrosit yg tercecer saat kurajut pesonamu dalam kristik yang kukirim untukmu. Kali pertama, kali kedua, dan kali ketiga. kau masih mempesona layaknya Jakarta. penuh hingar, dan makin berbinar dalam kelam. Namun, malam dan pesonanya sudah hilang, aku kembali pada kenyataan.  Pada pagi dingin berselimut kabut, berada di balik jendela. Ya, karena rupa hanya menjadikanku anggapan sesal bagimu. Bahkan untuk sesimpul senyum pun mungkin kau tak mau. Karena jakarta selalu keras untuk para pendatangnya. Tapi toh statistik imigrasi terus meningkat. Begitupun kau, yang semacam Kota Jakarta. 5 Januari 2014 Dalam dingin kipas angin. Teruntuk seorang teman yang memilih menyembunyikan hati.